MENEGUHKAN KEMBALI HIMAS SURABAYA

Oleh : Muarif

Menyambut baik I’tikad kawan-kawan mahasiswa sapeken yang berdomisili di Surabaya. Mereka kini-meminjam istilah ketua presidium pusat-“yang gelisah” menanyakan eksistensi himas yang telah lama goyah dan vakum (entah apa yang menyebabkan kevakumannya). Berangkat dari kegelisahan itulah mereka tidak ingin terperangkap oleh masa lalu yang kelam. Kemudian membangun komitmen bersama untuk memulai perjuangan baru untuk menjemput perubahan masa depan yang lebih gemilang. Namun yang kita harapkan bersama adalah jangan sampai kesolidan dan kebersamaan itu hanya “sepedas lombok” dan tidak hanya tampak dari luar, tapi dari dalam sangat rapuh, yang dalam istilah al quran disebut “Tahsabuhum jami’an wa qulubuhum syatta”.
Kenapa harus memulai dari Surabaya? Ada beberapa factor yang menjadi alasan mendasar, salah satunya adalah bahwa surabaya merupakan sentral gerakan dan paling dekat dengan isu-isu kepulauan. Karena itu, himas secara keseluruhan, dan secara khusus himas Surabaya harus mampu membaca arah perubahan jawa timur, dari sisi politik, pendidikan, ekonomi, social-budaya, serta kebijakan-kebijakan pemerintah, terutama berkaitan dengan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat kepulauan.
Tanpa melihat kekurangan dan kesalahan masa lalu, kenapa himas Surabaya saat itu tidak bisa menunjukkan kesolidannya? Dalam pandangan saya, ada beberapa factor; pertama, kurangnya bahkan nyaris tidak adanya koordinasi antara pengurus wilayah (PW) Himas Surabaya dengan anggota himas yang lain. Kedua, mereka tidak kenal dengan himas, sehingga lahir pertanyaan; apa itu himas? Dan pertanyaan-pertanyaan yang senada. Ketiga, ada juga yang tahu himas tapi menunjukkan sikap apatis terhadap himas serta kondisi kepulauannya.


Kepulauan sapeken sekarang ini sedang “sakit parah” dan sedang menunggu generasi muda sapeken untuk menyembuhkan dan mengeluarkannya dari berbagai masalah. Peran dan tanggung jawab generasi muda sapeken kini sedang ditunggu. Kalau kita melihat dengan jernih, banyak sekali persoalan-persoalan kepulauan yang memerlukan solusi untuk keluar dari masalah-masalah itu. Salah satu contoh kecil, kita melihat dari Sumber Daya Alam (SDA) nya; terumbu karang rusak parah, kondisi laut yang tidak lagi bersahabat, penghasilan ikan kurang disebabkan rusaknya kondisi laut akibat bom ikan dan potassium. Dengan kata lain, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan, bahkan disinyalir keadaan pulau-pulau kecil dan terpencil 10-20 tahun akan terancam punah akibat pemanasan global dan terjadinya erosi (kita berharap itu tidak terjadi di kepulaun yang kita cintai). Ditambah lagi Sumber Daya Manusia (SDM) nya yang semakin hari menunjukkan “menyimpang” dari moralitas dan etika. Prostitusi terselubung, tidak adanya kepastian hukum, carut-marutnya dunia pendidikan, dan lain sebagainya. Himas lah yang kemudian satu-satunya harapan dengan potensi generasi mudanya untuk merubah itu semu kea rah yang lebih baik.
Saya ingin menegaskan dan meluruskan pandangan bahwa himas itu katanya himpunan atau komunitas “kurang kerjaan” dan perubahan yang sering didengungkan himas hanyalah “mitos”. Himas itu bukan lagi dalam tataran itu, himas telah banyak membuktikan kesuksesan dan perestasi yang gemilang. Tinggal bagaimana kemudian kawan-kawan melanjutkan dan membuat perestasi-perestasi baru demi masa depan himas selanjutnya dan kepulauan sapeken.
Oleh karena itu, upaya untuk mengembalikan peran dan eksistensi himas secara universal adalah dengan membangun komitmen bersama dan meminimalisir sikap apatis terhadap himas, serta membuang jauh-jauh perasaan tidak memiliki dan kepentingan di himas. Aktivis sejati tidak pernah memikirkan apa yang ia dapatkan dari organisasi (terlebih himas yang primordial), tetapi ia berpikir apa yang ia berikan untuk organisasi. Dan ia tidak mencari kebesaran dalam organisasinya, tetapi bagaimana ia membesarkan organsisasinya.
Semesta masa depan sangat ditentukan oleh kinerja apa yang kita lakukan di hari ini. Hari ini harus senantiasa menjadi hari-hari penting untuk selalu meneropong diri dan masa depan, bangsa, Negara, kepulauan, umat dan himas itu sendiri. Tanpa teropong yang jeli, kita akan kehilangan jejak masa depan. Dengan teropong yang tajam dan cerdas, langkah kita untuk mengukir masa deopan itu sendiri akan semakin terarah karena kita memiliki gantungan wawasan. Wawasan inilah yang sesungguhnya menjadi inspirasi pencerahan setiap kita melakukan tindakan. Orang miskin wawasan, baik wawasan pemikiran, maupun wawasan kemanusiaan, akan miskin membangun peradabannya.
Harapan saya, semoga tulisan ini mampu memberikan “pencerahan” baru bagi proses penyadaran jati diri serta pembaruan himas (dan tentunya kepulauan sapeken yang tercinta) secara keseluruhan untuk meninggalkan “selimut sejarah” yang kelam. Dengan begitu, kita tidak lagi hidup dalam kegalauan. Semoga !
Itulah barangkali sebuah “renungan tengah malam” yang lahir dari rasa kegundahan saya. Jangan pernah menganggap perjuangan telah selesai padahal kita belum memulai. Sukses untuk Himas Surabaya…!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar